Minggu, 13 Februari 2011

Memperkenalkan Metode Mengajar


METODE THE MOVE STAR
 Oleh  SYUKUR
 Pebruari 2011

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
       Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi 3 aspek yakni; Bilangan, Geometri dan pengukuran serta Pengolahan Data (Permendiknas RI No 22 Tahun 2006 Tentang Standar isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah/Halm. 139). Pada standar Kompetensi  Bilangan  Kompetensi dasar melakukan operasi perkalian dan pembagian diajarkan mulai kelas II(semester ke –2) s/d Kelas VI. Menurut penulis  Kompetensi dasar (operasi perkalian dan pembagian) ini merupakan intsari  pelajaran matematika yang lain setelah operasi penjumlahan dan pengurangan.  Selanjutnya jika materi ini tidak dikuasai siswa secara langsung maupun tidak langsung akan memperlambat dalam mempelajari Satandar kompetensi yang lain dalam mata pelajaran ini.
       Sementara fakta di lapangan menunjukkan bahwa nilai prestasi pelajaran Matematika ini masih jauh dari harapan (KKM). Gambaran  ini terlihat jelas dari hasil UTS semester 2 untuk pelajaran Matematika  pada kelas IV   pada salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Kaliwiro (Rata – rata 37,5) utamanya pada kometensi dasar ini. Jika melihat  hasil nilai rata tersebut kemudian muncul beberapa  pertanyaan seperti berikut ini. Mengapa demikian? Salahkah guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar? Apakah sarana dan prasarana sekolah itu memprihatinkan? Apakah metode yang diterapkan dalam pembelajaran itu tidak tepat?
        Dari ke- empat pertanyaan di atas yang akan penulis bahas dalam tulisan ini adalah  hanya pertanyaan ke-empat. Dan jawaban untuk pertanyaan itu dua macam, jawaban yang pertama adalah  “ ya “ dan jawaban yang ke dua adalah “ tidak “. Dua jawaban itu penulis bahas adalah jawaban pertama sekaligus menggarisbawahi kurang tepatnya metode yang diterapkan dalam mengajarkan materi tertetu. Alasannya karena selama ini   metode yang diterapkan adalah Ceramah (kegiatan didominasi guru), tanya jawab (guru dan  sebagian siswa aktif) serta metode tugas dalam  kegiatan pembelajaran. Berdasar analisis hasil evaluasi pelajaran Matematika  terbukti bahwa    metode ini tidak menunjukkan hasil yang diharapkan untuk  mata pelajaran tertentu  (matematika materi tertentu).
       Sehubungan dengan hal tersebut di atas melalui  tulisan ini penulis perkenalkan metode  “ THE MOVE STAR “. Apa dan bagaimana penerapan serta hal hal yang terkait dengan terciptanya metode ini  akan dibahas pada bagian pembahasan tulisan ini.
B. Rumusan Masalah
          Jika metode ceramah yang mendominasi kegiatan belajar mengajar adalah guru   siswa hannya mendengarkan, maka metode  “The Move Star “ ini baik  guru maupun keseluruhan siswa aktif. Berdasarkan uraian ini penulis mengetengahkan rumusan masalah sebagai berikut.
    Apakah metode The Move Star dapat  meningkatkan nilai  prestasi belajar pada  pelajaran matematika (Operasi perkalian, Operasi penjumlahan bilangan bulat/yang lain) pada siswa kelas IV Sekolah Dasar?
C. Tujuan.
     1. Tujuan Umum
           Meningkatkan  nilai  prestasi pelajaran matematika pada  jenjang  sekolah  dasar.
     2. Tujuan Khusus.
              Berbagi pengalaman kepada rekan – rekan guru  Sekolah dasar dalam menerapkan metode The Move Star demi tercapai KKM yang telah ditentukan oleh  guru di sekolah itu.

KAJIAN TEORI
     Usia siswa kelas 4 Sekolah Dasar/MI berkisar   antara  9 - 11 tahun. Pada rentang usia ini menurut Piaget anak berada pada tahapan moral realitivis, yaitu bentuk peningkatan pentahapan sebelumnya yang dirasakan teramat kaku (Prof. Dr.A. Aziz Wahab, M.A. dkk/Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/UT). Selanjutnya teori belajar Matematika yang dicetuskan oleh ilmuwan kelas dunia seperti  Jerome S Bruner dari Universitas Harvard menandaskan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa atau benda tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau dikenalnya (Drs Karso, M.Pd dkk/Pendidikan Matematika 1/UT). Menurut  Bruner hal-hal tersebut dapat dinyatakan sebagai proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan,yaitu:
1. Tahap Enaktif atau Tahap Kegiatan(Enactive)
2. Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Bayang(Iconic)
3. Tahap Simbolik (Symbolic)
    Kemudian Zoltan P. Dienes  seorang guru matematika (Pendidikan di Hongaria, Inggris, dan Perancis),  telah mengembangkan sistem pengajaran matematika yang berusaha agar pengajaran matematika menjadi lebih menarik dan lebih mudah untuk dipelajari. Dan dasar teorinya sebagian berdasarkan  dari teori Peaget. Lebih lanjut Dienes mengemukakan bahwa konsep - konsep matematika itu akan lebih berhasil dipelajari bila melalui tahapan-tahapan tertentu. Menurut Dienes ada enam tahapan secara berurutan, yaitu
1.Tahap bermain  bebas (Free Play).
2.Permainan (Games)
3.Penelaahan Kesamaan Sifat (Searching for Comunities)
4.Representasi (Representation)
5.Simbolisasi (Symbolisation)
6.Formalisasi (Formalisation)
     Lain ladang lain belalang, lain ilmuwan lain pula tori pembelajaran. Jika dua orang ilmuwan  seperti yang telah diuraikan di atas telah mengemukakan teori belajar matematika maka menurut Van Hiele (seorang guru matematika bangsa Belanda)  mengemukakan pendapatnya bahwa ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri yaitu  waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan. Dari ke tiga unsur jika diterapkan secara terpadu akan dapat meningkatkan berfikir siswa kepada tahapan berfikkir yang lebih tinggi. Adapun tahapan berfikir menurutnya ada lima yakni. 1) Pengenalan 2)Analisis 3)Pengurutan 4) Deduksi 5)Akurasi.
     Khusus dalam pembelajaran matematika di SD  Wilian Brownell (1935) mengemukakan apa yang disebut”Meaning Theori (Teori Makna)” sebagai alternatife dari “Drill Teori” (Teori latihan Hafal/Ulangan)  dalam pengajaran matematika berdasarkan kepada teori belajar asosiasi yang lebih dikenal dengan sebutan teori belajar stimulus respon yang dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1974-1949). Teori belajar ini menyatakan bahwa pada hekikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan  antara stimulus dan respon. Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil apabila respon siswa terhadap suatu stimulus segera diikuti oleh rasa senang atau kepuasan.
    Van Engen (1949) seorang penganut teori makna mengatakan bahwa dalam situasi yang bermakna selalu terdapat tiga unsur.
1. Ada suatu kejadian(event),benda(object), atau tindakan (action)
2. Adanya simbul (lambang/notasi/gambar) yang digunakan sebagai pernyataan yang mewakili unsur pertama di atas.
3. Adanya individu yang menafsirkan simbul-simbul yang mengacu kepada unsur pertama di atas.
    Beberapa teori belajar di atas  merupakan dasar dan  mengilhami terciptanya metode pembelajaran matematika yang kemudian penulis beri nama “The Move Star”

PEMBAHASAN
A.      Deskripsi
      The Move Star berasal dari bahasa Inggris dan jika diterjemahkan ke  dalam bahasa Indonesia bermakna bintang berpindah (jw. Lintang alihan).  Dinamakan bintang perpindah karena  pembelajaran menggunakan metode ini  melibatkan sekelompok siswa  yang memperagakan gerak seperti bintang yang berpindah tempat. Nama metode  ini teropsessi  dengan fenomena alam yang terjadi  pada malam hari (bintang bertaburan dan sesekali terlihat bintang yang berpindah tempat).
B. Penerapan Metode The Move Star
     1. Metode ini dapat diterapkan pada  materi pelajaran apa  saja? Jawaban sementara bahwa metode ini pernah penulis uji cobakan pada  pelajaran matematika kelas IV materi:
         a. Operasi perkalian dasar (satu angka x satu angka)
         b. Operasi perkalian bilangan Sembilan.
         c. Operasi Penjumlahan bilangan bulat positif negatif
         d.Operasi Pengurangan bilangan bulat negatiff-negatif
        
2.  Alat Pembelajaran
      Untuk operasi perkalian dasar (satu angka kali satu angka) bagian pertama
      (2x2  s/d 5 x9) adalah :

*

*
*
*
*
1
2
3
4
5
a.petak bernomor sebanyak 5 petak



b.kartu angka (1 – 9 ) per siswa
c. Kartu soal perkalian dasar
    
 Untuk operasi perkalian dasar bagian ke dua ( 6x6 s/d 9x9 ) hanya  dua petak  dan setiap petak  bernomor 1- 5.

*

*
*
*
*
1
2
3
4
5
     

*

*
*
*
*
1
2
3
4
5



       Keterangan :   *  siswa/peraga
   Khusus untuk perkalian Sembilan menggunakan petak sebagai berikut
*

*

*

*

*

*

*

*

*

*
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Keterangan :   *  siswa/peraga
Untuk operasi  penjumlahan bilangan bulat positif negative
*

*

*

*

*

*

*

*

*

*
1 (-)
2 (-)
3 (-)
4 (-)
5 (-)
6 (-)
7 (-)
8 (-)
9 (-)
10 (-)
Petak negatif
*

*

*

*

*

*

*

*

*

*
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Petak positif
3.Langkah-langkah
Operasi perkalian dasar bagian pertama
  1. Pembentukan kelompok  terdiri dari 7 orang  (1 orang pemberi aba sekaligus pembawa kartu soal, 1 orang penebak, 5 orang pemain /peraga)
  2. Kegiatan inti
No
Pemberi aba
Pemaian
Penebak
1
Operasi perkalian dimulai
Menempatkan diri pada petak yang telah diperdiapkan
Penebak menempatkan diri
2
Kocok kartu soal ambil salah satu dan membaca soal .
Contoh
2 X 5
Dua orang pemain pada petak 1 dan 2 maju selangkah seraya menunjukkan kartu angka 5. Seusai ditebak kembali ke petak semula

Menebak hasil perkalian  tu denbgan cara menjumlah kartu angka yang dipegang 2orang peraga.
3
The Move Star Action
 “satu”
Pemaian pada petak nomor satu maju selangkah sehingga petak no 1 kosong
-
4
“dua”
Pemaian pada petak 2-5 bergeser ke kanan sehingga petak no 5 kosong.

5.
“tiga”
Pemain no 1 hadap kiri  maju dan mengisi petak yang kosong.

6
Perkalian dilanjutkan

Mempersiapkan diri
Mempersiapkan diri
7
Kocok kartu soal ambil salah satu dan membaca soal .
Contoh
3 x 7
Pemain no 1-3 maju selangkah seraya menunjukkan kartu angka 7. Seusai ditebak kembali ke petak semula
Menebak hasil perkalian  itu dengan cara menjumlah kartu angka yang dipegang 3 orang  peraga.
8
The Move Star Action
 “satu”
Pemaian pada petak nomor satu maju selangkah sehingga petak no 1 kosong
-
9
“dua”
Pemaian pada petak 2-5 bergeser ke kanan sehingga petak no 5 kosong.

10
“tiga”
Pemain no 1 hadap kiri  maju dan mengisi petak yang kosong.

          Dan seterusnya hingga lima kali putaran.
  1. Kegiatan akhir tes formatif
C. HASIL UJI COBA
     Berikut adalah gambaran hasil pembelajaran operasi perkalian dasar bagian ke dua 6 x 6  s/d 9 x 9 pada siswa  Kelas IV.B SD Negeri  1 Kaliwiro Kecamatan Kaliwiro  Kabupaten Wonosobo beberapa waktu lalu. Selengkapnya seperti berikut ini.
Tabel.1
HASIL EVALUASI OPERASI PERKALIAN DASAR
Pra Siklus
Siklus 1
Siklus 2
Siswa
Prekw
Rata2
Siswa
Prekw
Rata2
Siswa
Prekw
Rata2
30 org
0  - 1
40- 2
50- 3
60- 2
70 - 1
80 - 5
90 – 4
100-12
79
30 org
10-2
40-1
60-1
70-2
80-6
90-2
100-14
83
30 org
20-1
40-2
60-1
80-3
100-23
89

Deskripsi Hasil evaluasi
    Pada pra siklus  yang diikuti oleh 30 orang siswa masih terdapat nilai sangat memalukan yaitu 0 dan diraih seorang siswa. Nilai 20 dan 30  tidak ada namun nilai 40 – 60  diraih oleh 7 orang siswa. Nilai 70 -90  diraih  sebanyak  10 orang siswa. Dan nilai 100 diraih sebanyak 12 orang siswa. Adapun nilai rata –rata pada pra siklus ini  adalah 79.
     Pada siklus 1 Nilai memalukan 0 (Nol) sudah lenyap namun nilai 10-40 masih mengihas tabel hasil evaluasi dan diraih 3 orang anak. Sementara nilai 60-70 tiga seorang, sedangkan nilai 80 hanya 6 orang saja. Nilai 90 diraih 2 orang dan yang bernilai sangat memuaskan (100) pada siklus 1 ini adalah  meningkat  2 orang yakni dari 12 menjadi 14 orang. Dan nilai rata-rata pada siklus ini adalah 83
      Catatan yang berhasil penulis angkat berdasarkan hasil evaluasi pada siklus 2 adalah bahwa nilai  10 sudah tidak bertengger lagi. Namun pada silkus 2 ini masih ada nilai yang cukup memalukan 20-40 kendati hanya diraih oleh 3 orang saja. Nilai 60 masih bertanhan , nilai 70 sudah tak ada lagi. Nilai 80 turun dari 6 orang pada siklus 1 menjadi 3 orang pada siklus 2. Ada yang cukup membanggakan pada siklus ini justru nilai 90 tidak ada dan meloncat menjadi nilai 100, dan naik secara signifikan dari  14 orang siklus 1 menjadi 23 orang pada silkus 2. Jika dibanding dengan pra siklus nilai 100 meningkat drastis hampir mendekati 100% yakni dari 12 orang menjadi 23 orang pada siklus ke dua  ini. Nilai rat-rata pada siklus ini meningkat tanjam dari 83 pada siklus 1  menjadi 89.

PENUTUP
A.  Simpulan
     Berdasarkan hasil penilaian dari pra siklus hingga siklus dua menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifiknan terutama pada  nilai rata-rata dari Rata-rata  79 (pra siklus) meningkat menjadi 83 pada siklus satu dan meningkat drastis menjadi 89 pada siklus dua. Perolehan nilai 100 juga pengalami peningkatan yang cukup membanggakan dari 12 orang siswa pada pra siklus meningkat menjadi 14 orang pada siklus satu. Kemudian meningkat lagi pada siklus ke dua dari  14 orang menjadi 23 orang siswa.
    Sebaliknya perolehan angka yang tak diharapkan dari pra siklus hingga siklus  dua mengalami penurunan, angka 0 pada pra siklus masih dapat kita lihat namun pada silkus-siklus berikutnya angka itu suadah tak ada lagi. Angka 20 ,40,60 jumlahnya tak mempengaruhi perolehan rata-rata.
    Atas dasar dua argumentasi di atas dapat disimpulkan bahwa metode The Move Star dapat  meningkatkan nilai  prestasi belajar pada  pelajaran matematika  pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Kaliwiro Kecamatan Kaliwiro Kabupaten Wonosobo.
B.Saran-saran
    Bagi rekan – rekan guru Sekolah Dasar  utamanya  guru kelas II- IV yang mengalami kesulitan dalam mengajarkan operasi perkalian dasar cobalah terapkan metode yang satu ini. Karena metode ini menurut siswa siswi penulis rata –rata mereka mengapresiasi  positif. Bahkan ada yang mengharapkan untuk mencoba pelajaran lain menerapkan metode ini.
    Relevansinya terhadap pelajaran yang lainpun ada umpanya pelajaran olahraga karena metode ini juga menggambarkan gerakan baris berbaris (maju selangkah, satu langkah ke kanan, maju jalan,berhenti, mundur satu langkah).
     Menutup uraian ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Mari kita bina tunas muda harapan bangsa melalui tugas mulia ini yang dilandasi iman dan taqwa serta jiwa juang yang tinggi demi nusa bangsa dan negara.

DAFTAR PUTAKA
Aziz Wahap dkk 2006.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Universitas Terbuka Jakarta
Doyin, Mukh . Artikel Ilmiah. Semarang:
JhonM.Echols dan HasanShadily 2006. Kamus Inggris Indonesia.Gramedia Jakarta.
Karso dkk 2006. Pendidikan Matematika 1. Universitas Terbuka Jakarta.
M.Toha Anggoro,dkk 2008. Metode Penelitian.Universitas Terbuka Jakarta


   NB
Anda tertarik dengan artikel ini dan ingin mengggali lebih dalam lagi ?
Hubungi kami
085227900855
syukurhs@ymail.com







   













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar